Rabu, 24 Maret 2010

MERDEKA DARI PENGHAMBAAN KEPADA THAGHUT

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain." (Al-Ma’idah: 20)

Kemerdekaan adalah karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, nikmat kemerdekaan harus terus disyukuri dan dimaknai lebih dalam dari hanya sekedar peringatan ceremonial belaka. Bukan lantaran ia dicapai dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga saja, namun karena kesadaran kita juga bahwa kemerdekaan itu tak akan mungkin tercapai tanpa campur tangan dan karunia Allah Dzat yang Maha Kuasa.

Hal ini dipahami benar oleh paru guru dan pahlawan pendahulu kita hingga kesadaran iman itu pun termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi ” ..atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa…”. Sebuah warisan kejujuran yang harus direnungi secara mendalam oleh generasi penerus di masa kini dan masa yang akan datang. Bahkan sebagaimana ayat 29 surat Al-Ma’idah di atas, Allah benar-benar mempertegas dalam firman-Nya bahwa kemerdekaan adalah pemberian-Nya. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam Indonesia harus mensyukurinya dengan penuh tawadhu dan rendah hati.

Apabila pada masa-masa jahiliyah dan zaman kolonialisme wujud penjajahan yang menimpa umat adalah berupa penindasan fisik dan ancaman senjata, maka pada era kemerdekaan ini ‘musuh’ umat Islam menjelma dalam bentuk lain yang lebih ‘laten’ dan tidak kalah berbahaya. Peperangan yang mencuat adalah peperangan aqidah kaum muslimin dengan musuh-musuh yang beragam dan selalu memperbaharui diri.

Harta, kekuasaan, jabatan, uang, kesenangan, kemewahan, fasilitas hidup, mode, mistik, jimat, perdukunan, ramalan bintang, perjudian online, narkoba, seks bebas, dan tayangan-tayangan media yang menyesatkan dewasa ini sudah menjadi sosok-sosok monster yang merongrong aqidah kaum muslimin. Taghut tidaklah semata-mata dipahami sebagai sesosok berhala dan patung yang disembah dan dikeramatkan sebagimana dikenal pada masa-masa awal turunnya Islam. Namun pada hakikatnya, thaghut dapat berbentuk apa saja yang membuat hati dan pikiran manusia merasa condong dan memuliakannya, bahkan mencintainya melebihi cintanya kepada Allah SWT.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah…” (Al Baqarah : 165)

Persoalan ini tentu tidak bisa dianggap enteng, sebab perkara-perkara tersebut diatas bukanlah fakta yang dibuat-buat. Namun sebuah realitas masyarakat yang sungguh sangat memprihatinkan. Apalagi serangan aqidah itu sudah secara langsung memasuki rumah-rumah melalui media televisi kita tanpa ada sedikitpun benteng yang mampu menahannya.

Kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya pertelevisian kita sudah tidak lagi berpihak kepada umat dalam membentengi aqidahnya. Kekuasaan dan harta dijadikan komoditas yang memicu perseteruan, kemewahan di ‘dewa’ kan, ramalan di perdagangkan dengan vulgar dan tanpa malu-malu. Kemaksiatan dipertontonkan dengan kebanggaan. Dan banyak hal lain yang kesemuanya semakin hari semakin mengikis aqidah dan iman kaum muslimin.

Itu semua lantaran manusia telah menjadikan karunia dan pemberian-pemberian Allah sebagai sosok taghut yang mereka ’sembah’ dan bangga-banggakan. Oleh karena itu, kaum muslimin harus sadar dan segera bangun dari keterpurukan aqidah. Jangan sampai kita terjerembab dalam kedangkalan iman dan kedustaan aqidah, sebagaimana Allah peringatkan didalam firman-Nya:

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (An-Nahl: 36)

Persoalan aqidah umat ini sudah memasuki kondisi kritis dan merisaukan. Dan harus ada tindakan konkrit untuk menyelamatkan masyarakat dari bahaya laten yang menggerogoti keimanan kaum muslimin. Generasi muda Islam harus menjadi garda terdepan dalam membentengi umat dari keruntuhan iman.

NGGA’ IKUT MUKHOYYAM KO’ BANGGA..?


Mukhoyyam adalah bagian yang tak terpisahkan dari kewajiban dan tuntutan tarbawi setiap kader dakwah. Tidak perduli tua atau muda, senior atau pun pemula. Dan mukhoyyam pun harus ditunaikan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun seret. Sebab, mestinya setiap kader dakwah sudah jauh-jauh hari menyiapkan waktu dan maal untuk menyongsong event serius ini.

Urgensi mukhoyyam tidak lebih longgar dari kehadiran kader dalam TRP pekanan. Juga tidak lebih ringan dari menjalankan amanah struktural. Karena ia adalah bagian dari manhaj tarbiyah yang kita yakini kemuliaannya.Tantangan berat yang semakin beragam didepan mata, seharusnya mendorong para aktivis da’wah untuk memanfaatkan sarana mukhoyyam sebagai kesempatan emas untuk menge-charge kembali spirit dan kebugaran fikroh yang lambat laun mengendur seiring perjalanan waktu. Dengan sedikit kesulitan dan ujian dalam kegiatan mukhoyyam diharapkan agar setiap kader bisa menapak tilasi, merenungi dan bertafakur bahwa perjalanan da’wah dalam tataran implementasi jauh lebih sulit dan kompleks. Karenanya dibutuhkan kader-kader yang kuat secara fisik dan mental, kader yang cerdas dan mampu bertahan dalam kondisi sesulit apapun, dan kader yang mampu memikul beban amanah untuk memenangkan da’wah ini. Sehingga agama semata-mata hanya milik Allah SWT.

Ada beberapa hal yang harus dipahami setiap kader dakwah bahwa kewajiban mukhoyyam memiliki makna penting dalam amal jama’i, yaitu:

Membangun Kekuatan Ukhuwwah (Qowwiyul ukhuwwah)

Mukhoyyam akan menguatkan ukhuwah, karena disini para kader da’wah akan menjalani proses pengenalan (taaruf) dalam wujud yang lebih nyata. Saling bisa mengenali kelebihan dan kekurangan saudaranya untuk kemudian muncul perasaan saling memahami (tafahum) dan berlapang dada. Sehingga dengan itu setiap kader semakin menyadari pentingnya amal jama’i, saling melengkapi, dan ber-takaful (saling menanggung) dalam amal-amal da’wah.

Membangun Kekuatan Keberanian (Qowwiyul Saja’ah)

Tantangan da’wah hari ini memiliki jenis yang jauh lebih kompleks dan beragam daripada masa-masa sebelumnya. Tidak hanya ancaman dan rongrongan dalam bentuk pemikiran saja, namun juga berupa opini, teror, ancaman fisik dan lain-lain. Perlu kesiapan memadai untuk bisa menanggulangi dan mencari jalan keluar.

Performance kader dalam rutinitas TRP sangat tidak mampu menunjukkan kebutuhan ini. Apalagi dalam perkembangannya tidak sedikit TRP yang mengalami pasang surut dalam frekuensi kuantitas dan kualitasnya. Sehingga potensi keberanian yang dimiliki setiap kader kurang terasah dan terlatih untuk merespon tantangan dan ancaman terhadap da’wah ini. Meskipun keberanian tidak hanya terukur dari hitungan pengendalian emosi dan fisik semata. Mukhoyyam adalah media yang cukup tepat untuk ‘menajamkan’ potensi yang satu ini.

Membangun Kekuatan Kedisiplinan (Qowiyyul Dzawabit)

Maraknya bangku kosong di awal acara yang sering mewarnai program-program da’wah yang selama ini diselenggarakan akan terus menjadi ‘budaya’ yang mengakar jika kedisiplinan kader semakin lama semakin tidak teruji. Apabila untuk sekedar hadir saja tidak bisa disiplin dan tepat waktu, lalu bagaimana jika seorang kader diberikan kepercayaan untuk mengelola amanah? Analogi yang fair. Jika urusan sepele saja tidak mampu, maka untuk tanggung jawab yang jauh lebih besar pasti akan berantakan dan jauh dari sukses dan keberkahan. Da’wah ini akan sangsi untuk memikulkan amanah kepada kader-kadernya yang lemah disiplin. Padahal kita-kita juga sebagai kader-kader da’wah yang menjadi batu bata penopang bangunan ini. Jika kita tidak layak memikul amanah karena lemahnya disiplin kita, lantas apakah da’wah ini harus memberikan kepada orang lain?

Membangun Kekuatan Daya Responsibilitas

Tidak bisa dipungkiri bahwa terbengkalainya kerja-kerja da’wah di berbagai tempat banyak disebabkan semakin payahnya daya responsibilitas kader. Luntur oleh karunia dan kemudahan yang pada hari ini semakin gampang digenggam tangan. Sungguh keliru jika ‘gaya amal’ kita terus menerus seperti ini. Apalagi jika semakin parah?

Tentu kita sering mendapatkan informasi jika saat-saat ini tidak sedikit aktivis da’wah yang urung menunaikan tugas gara-gara terhalang gerimis dan rengekan anak. Atau karena sedikit kemalaman dan ‘jauh’. Padahal sarana kehidupan yang dimiliki kader semakin lengkap mengingat latar belakang mata pencaharian dan ekonomi rata-rata kader cukup baik dan mapan. Tidak kurang kader yang memiliki alat transportasi, motor bahkan mobil. Dan berapa banyak kader yang tidak punya HP dan telepon, sangat sedikit. Namun sayangnya, anugerah dan kesempatan lebih yang Allah berikan kurang dimanfaatkan untuk mendongkraknya dalam amal-amal da’wah.

Bukan perkara siapa yang salah. Namun yang paling jelas bisa dipahami adalah bahwa lemahnya daya responsibilitas kita dalam menyambut seruan kerja da’wah sejauh ini disebabkan semakin luntur dan pudarnya imtimam kita terhadap manhaj. Oleh karena itu, untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar kita dalam da’wah, yaitu kemenangan dan kemuliaan di sisi Allah SWT, harus senantiasa dijaga dan dipelihara kualitas ketaatan dan loyalitas kita terhadap manhaj dan jalan dawah. Atau jika diperlukan, harus ada ‘renovasi’ serius untuk mengembalikan fikroh dan kesadaran kader kepada manhaj yang mulia. Karenanya, mukhoyyam menduduki posisi yang strategis untuk memelihara orisinalitas fikroh kader dan terjaminnya keberlangsungan pembenahan umat. Sehingga meninggalkannya bagaikan melepas salah satu pilar bangunan da’wah ini.

Dibagian akhir tulisan ini, penulis menghimbau kepada seluruh kader* Kota Tangerang yang belum mengikuti mukhoyyam sebelumnya di DP masing-masing, agar segera bersiap diri untuk bersama kader lainnya mengikuti Mukhoyyam Dasar II yang akan diselenggarakan pada hari Jum’at - Ahad, 6 - 8 Juli 2007 di Gunung Bunder, Bogor. Dan bagi para muwajih, alangkah indahnya jika Antum memahami dengan lebih baik urgensitas mukoyyam ini, dan mendorong dengan serius para binaannya untuk mengikuti mukoyyam ‘wada’ 2007 ini. Jazakumullah.

JALAN MENUJU AKHLAKUL KARIMAH


Berbicara tentang implementasi akhlakul karimah tentu tidak luput dari proses pembinaan yang tidak kenal lelah. Karena akhlakul karimah tidaklah cukup hanya berupa visi di atas kertas. Dan akhlakul karimah dalam bentuk sebuah tatanan moral masyarakat juga tidak mungkin dapat terwujud hanya melalui sarana dan media fisik yang mensosialisasikannya.

Oleh karena itu, harus dipahami bersama bahwa terwujudnya tatanan masyarakat yang berpijak pada nilai-nilai akhlak yang baik, mesti dicapai dengan usaha keras semua lapisan masyarakat yang menyadari urgensitas tujuan mulia ini. Dan upaya-upaya yang dilakukan tentunya tidak hanya berwujud fisik belaka, tetapi harus ditekankan kepada proses pembinaan (tarbiyah) moral dan akhlak masyarakat secara komprehensif dan terus menerus.

Sebagai pemuda Islam, kita tentu menyadari dengan baik tentang peran yang harus diemban untuk turut berpartisipasi dalam perjuangan bersama membangun masyarakat yang berakhlak mulia. Meski tidak mudah, namun cita-cita mulia tersebut bukanlah impian yang mustahil untuk diwujudkan. Lebih mendasar lagi, karena upaya mewujudkannya merupakan sebuah misi kenabian, ibadah dan jihad yang sangat tinggi kedudukannya di hadapan Allah SWT.

Demikian pentingnya kedudukan akhlak di mata Islam. Sehingga disamping untuk mengentaskan manusia dari kehidupan jahiliyah kepada cahaya Islam, dan memurnikan penghambaan manusia hanya kepada Allah semata, Rasulullah perlu menegaskan satu diantara tujuan ke-rasulan-nya adalah untuk penyempurnaan akhlak. Sebagaimana yang tersirat dalam sabda Rasulullah s.a.w, “Tidaklah aku diutus untuk manusia kecuali untuk menyempurnakan akhlak“.

Optimisme dan kerja keras mutlak diperlukan untuk memperjuangkan terwujudnya masyarakat yang berakhlakul karimah. Mengapa? Karena sekali lagi bahwa proses yang harus dilalui tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, melainkan harus dengan pengorbanan yang sempurna dan tak kenal waktu. Sehingga ketika segala upaya sudah dilaksanakan dengan maksimal dan ikhlas, niscaya Allah SWT. akan segera memenuhi janjinya.

Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS. Shaad: 46)

July 28, 2006

Kematian itu ..

Filed under: NASEHAT

KEMATIAN ITU DARI ALLAH


Kematian adalah pemberhentian yang pasti akan kita singgahi. Ibarat kehidupan ini adalah suatu perjalanan dan kita penumpang kereta kehidupan ini, maka pasti akan tiba waktunya kita sampai di stasiun tujuan. Itulah kematian yang mesti berulang-ulang kita sadari dan renungi, bahwa ternyata hiruk pikuk, gemerlap dan warna-warni kehidupan ini akan segera terhenti kita nikmati hanya dengan satu kata yang sederhana, ‘mati’.

Setiap kita sudah mendapatkan waktu yang tepat untuk tiba distasiun kehidupan, tidak bisa dimajukan ataupun ditunda barang sebentar. Dan setiap makhluk yang bernyawa, khususnya manusia, semuanya sedang bersama-sama menaiki kereta kehidupan ini. Diantaranya ada yang sedang duduk santai, karena mengira stasiun yang ditujunya masih jauh. Ada yang sedang berdegub kencang hatinya, karena stasiun tujuannya sudah didepan mata.

Tetapi yang lebih pasti adalah, bahwa ratusan, ribuan, jutaan, bahkan ratusan juta manusia sudah banyak yang turun dari kereta ini, mereka sudah sampai di tempat pemberhentian mereka, stasiun yang memisahkan antara kehidupan dan kematian.

Sebagaimana banyak Allah nyatakan didalam firman-Nya:

"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?" (Al - Anbiya : 34)

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Al - Imron : 144)

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Al - Imron : 145)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Al - Imron : 185)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (Al - Ankabut : 57)

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Luqman : 34)

"..(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun’alaikum[823], masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (An - Nahl : 32)

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun," (Al - Mulk : 2)

Semoga kabar-kabar kematian dari Sang Maha Hidup ini mampu menjadikan setiap kita orang-orang yang senantiasa mempersiapkan diri. Agar saat tiba di stasiun tujuan, kita membawa bekal yang cukup dan memadai untuk episode ‘kehidupan’ yang selanjutnya.

SELAMAT JALAN MUJAHIDAH: ALLAH TELAH MEMILIH KALIAN

Turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas syahidnya ukhti Mia Eka Putri dan ukhti Evi Alvia yang telah kembali ke sisi Allah SWT dalam musibah kecelakaan 8 Juli 2007 yang menimpa ikhwan & akhwat pada acara Dauroh Pelajar DP2 Kota Tangerang.

Semoga Allah menerima segala amal sholih keduanya, mengampuni semua salah dan khilafnya, serta menempatkan keduanya di tempat terbaik di syurga-Nya yang penuh nikmat dan suka cita. Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan, ketegaran, dan keikhlasan atas kepergian mereka berdua. Insya Allah ridhonya kita akan menjadi jalan kemudahan bagi keduanya sampai di taman yang diimpikan setiap orang beriman.

Bagi ikhwan dan akhwat korban musibah yang Allah selamatkan, semoga diberikan kekuatan iman, kesejukan hati, keikhlasan, dan kesabaran. Mudah-mudahan Allah segera menyembuhakan sakit dan luka kalian. Dan yakinlah bahwa ".. segores luka dijalan Allah, kan menjadi saksi pengorbanan" dihadapan Allah yang Maha Penyayang. Untuk kalian para mujahid da’wah yang tsabat, petikkan nasyid cinta ini dipersembahkan:

Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan

Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
kan menjadi saksi pengorbanan

Allahu ghoyyatuna, Ar-rosul qudwatuna
Al-qur’an dusturuna, Al-jihadu sabiluna
Al-mautu fii sabilillah asma amanina

Allah adalah tujuan kami, Rosulullah tauladan kami
Al-qur’an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi

(nasyid shoutul harokah: "Bingkai Kehidupan")

Musibah ini adalah takdir Allah yang telah digariskan. Semoga kita semua sabar dan dapat mengambil pelajaran berharga darinya. Namun, jangan pernah berhenti untuk terus melangkah, apalagi hanya karena musibah kematian ini. Sebab, seandainya kita bersembunyi di lubang semut pun, jika telah tiba masanya, maka kematian pasti akan datang menjemput.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan (Al-Ankabut: 57)

Kematian hanya peringatan bagi setiap yang bernyawa, bahwa umur yang Allah berikan buat kita sedemikian sempit. Karenanya, teruslah bekerja dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk bekal menuju sang Pencipta. Sebab kita lebih cinta mati di jalan Allah, ketimbang meregang nyawa di atas ranjang yang mewah. "Selamat jalan mujahidah.., sungguh Allah telah memilih kalian.." Semoga kelak Allah mengumpulkan kita semua di syurga-Nya. Amiin.

PERJALANAN YANG PENUH ARTI

Aku dilahirkan 26 tahun lalu, tepatnya 29 September 1980, di kota kecil yang terkenal dengan makanan khas ‘Nasi Grombyang’. Kota yang dipagari Gunung Slamet di bagian selatan dan pantai Laut Jawa di sebelah utara, yang merupakan bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Kicau burung dan bentangan sawah yang luas begitu kental mewarnai setiap sudut-sudut kota dan pedesaaan. Subhanallah, aku jadi selalu merindukan kampung halamanku.

Puji syukur hanya untuk Allah yang berkenan memberiku sebagaian nikmat kecerdasan, hingga di masa perjalanan mengenyam jenjang pendidikan dasar, prestasi ranking 1 tidak pernah lepas dari genggaman. Bapak dan Ibu guru, kalian adalah para pahlawan yang telah membimbingku penuh kesabaran. Serta kawan-kawan masa kecilku, kalian adalah orang-orang yang banyak memberi pelajaran persahabatan dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Aku tak mungkin melupakan kalian.

Kenangan Bersama Ayah

Tidak bisa kupungkiri, waktu itu adalah masa-masa sulitku menghadapi takdir kehidupan. Ketika Juni 1989 Allah SWT. berkenan memanggil ayahanda ke haribaan-Nya. Usiaku belum genap 9 tahun. Dan raport kenaikan kelasku belum sempat ayah tanda tangani.

Ayah, engkau adalah guru terbaikku. Yang mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang, tentang kesabaran dan kelembutan, tentang kesederhanaan dan kepedulian, tentang tanggung jawab dan keberanian, tentang ketegaran dan pengorbanan. Ayah, engkau telah membimbingku mempelajari tentang hidup dan kehidupan.

Betapa aku masih ingat, saat di suatu malam engkau mengajakku bersama kakak bermalam ditengah-tengah persawahan yang begitu gelap. Di sebuah gubuk kecil, ditemani suara jangkrik dan radio kecil, aku dan kakak menyertaimu menjaga tumpukan kedelai hasil panen kita tadi siang. Kulihat dilangit sana berhiaskan taburan kerlip bintang yang begitu indah. Ayah, aku merasakan kedamaian.

Dan aku pun ingat, detik-detik terakhir saat perpisahan denganmu. Kulihat jasadmu terbujur kaku, tak menyapaku. Sayangnya, waktu itu aku masih terlalu kecil untuk memahami apa arti kematian. Aku hanya mampu merenung kosong tanpa pemahaman. Terbersit dalam benakku, satu saat nanti… Ayah pasti kembali lagi.

Hari pun berlalu satu demi satu, dan akhirnya harus ku pahami bahwa ayah tak mungkin kembali lagi. Ayah, selamat jalan ayah. Semoga Allah SWT menerimamu dalam naungan ampunan dan kasih sayang-Nya, sebagaimana ketulusan cinta dan kasihmu pada Ibu, kakak, dan aku.

Wanita yang Tegar

Aku memahami adaptasi yang tidak begitu mudah bagimu, Ibu. Karena dulu, ketika ayah masih ada di antara kita, engkau hanyalah seorang ibu rumah tangga. Tapi sejak saat itu, dirimu harus menjadi seorang ibu sekaligus kepala rumah tangga. Mencari nafkah untuk bertahan hidup.

Sejak kepergian ayah, dirimu adalah orang yang paling dekat denganku. Apalagi kakak kemudian tinggal bersama saudara agar bisa tetap melanjutkan sekolah. Ibu, engkau adalah wanita tegar yang pantang putus asa, meski sedih dan berat. Aku bisa merasakan ketika butir air mata sering membasahi kelopak matamu. Dan aku pun merasakan ketika kulitmu kian berkerut dan lapuk terbakar sinar matahari. Aku sangat merasakan spirit yang terus bergelora dalam dirimu, untuk tidak menyerah melewati masa-masa sulit.

Ibu, aku senang dan aku bangga. Kala tubuh mungilku waktu itu bisa membantumu mencari penghasilan. Ketika pagi-pagi buta aku mesti menyertaimu merawat dan menyiangi tanaman sayur-mayur kita. Menyirami dan menaburinya pupuk, menjaganya dan memeliharanya. Setiap pagi dan sore hari kaki kecilku mengayuh sepeda tua untuk menemani atau menyusulmu menyambangi lahan-lahan sayuran.

Hingga masa petik tiba, aku pun bersamamu membantu mengumpulkan ikatan-ikatan sayuran. Membersihkan dan mengemasnya. Tidak jarang aku juga turut mengangkutnya ke pasar untuk segera dijual dalam keadaan segar.

Ibu, aku bangga dan bahagia bisa membantumu meski waktu belajar dan bermainku jadi tidak banyak, toh aku juga masih bisa sempat bermain. Tapi insya Allah aku ikhlas. Ibu, engkau adalah orang yang paling aku cintai melebihi segalanya.

Ibu, aku juga masih ingat. Ketika akhirnya, ibu harus menentukan pilihan untuk merantau ke Ibukota Negara. Engkau memelukku erat dengan deraian air mata. Sedih rasanya, keluarga yang hanya 3 nyawa tidak pernah tinggal serumah sejak kepergian ayah.

Tekadmu yang kuat agar aku dan kakak tetap sekolah, meski harus tinggal terpisah jarak yang jauh, membuat dirimu tak lagi memperdulikan kulitmu yang mulai berkerut dan tenagamu yang kian melemah. Semoga Allah meridhoi ikhtiar dan perjuanganmu.

Dan do’a-do’a panjangmu di sepertiga malam terakhir adalah penguat kesabaran, energi harapan, dan sebab-sebab kehendak Allah memberikan kita ‘kemenangan’. Dan kini Allah telah mengabulkan diantara do’a-do’a kita.

Ibu, kini aku menyadari hikmah besar dari peristiwa-peristiwa yang Allah ujikan kepada kita. Cita-cita dan misi hidup yang kuat telah mengantarkan kita kepada keberhasilan melewati masa-masa sulit itu.

Bunda… terima kasih.

Semoga Allah Yang Maha Penyayang tiada henti membimbing dan menaungi kita. Amiin.

RAHASIA KEAJAIBAN SEDEKAH


Hari ini saya membuka friendster. Salah seorang sahabat mengirimkan sebuah nasehat yang membuat hati tertegun dan mata ini berkaca-kaca. Ia mengirimkan sebuah ’surat cinta’ dari Rasulullah saw. Isi suratnya sebagai berikut;

Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa:”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa:” Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”

Berbicara mengenai balasan dari Allah atas sedekah ataupun infaq yang telah kita keluarkan, sungguh kita butuh keyakinan yang sempurna, bahwa Allah akan mengganti dengan berlipat-lipat dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Berikut ini adalah sekelumit pengalaman yang mudah-mudahan bermanfaat buat ikhwah sekalian.

Alhamdulillah, saya sekeluarga sejak beberapa bulan lalu belajar menguatkan keyakinan itu, bahwa Allah akan memberikan ganti yang lebih baik bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya. Dan dengan pengharapan yang besar kepada Allah bahwa Dia pasti akan memenuhi janjinya tanpa menunggu waktu yang lama. Saya dan istri juga mulai belajar merutinkan sedekah baik dikala lapang dan sempit. Dengan nilai besar ataupun kecil, dengan jalan menghadiahi orang tua atau saudara. Meski tidak seberapa namun kami belajar untuk mengasah keikhlasan semata karena Allah. Dan dengan jalan menyisihkan infaq untuk fii sabilillah. SubhanAllah, keyakinan itu semakin kuat. Dan janji Allah demikian nampak jelas. Salah satunya adalah pada aksi solidaritas Palestina untuk warga Ghaza yang lalu.

Saya dan istri memang orang yang berpenghasilan utama dari gaji yang kami terima setiap akhir bulan. Beberapa penghasilan dari usaha lain (memang sudah menjadi komitmen) sementara tidak kami masukkan dalam penghasilan keluarga. Praktis kami menghidupi diri dengan gaji bulanan tersebut. Maka, kejadian uang habis sebelum jatuh tanggal menjadi hal yang lumrah dan biasa. Tapi kami tak berputus asa, bahkan kami makin semangat untuk berinfaq sekaligus menguatkan keyakinan terhadap janji-janji Allah.

Saat aksi Palestina 27 Januari lalu, kondisi kantong keluarga memang sedang kurang bersahabat. Baru 3 hari terima gaji, cuma tersisa beberapa rupiah saja. Bukan karena dibelanjakan konsumtif, karena kebetulan bulan Januari itu saya mengembangkan usaha yang terpaksa harus mengambil sebagian besar penghasilan bulanan yang biasanya saya terima. Sebagian sisanya sudah pasti dibelanjakan untuk mujahidah kecil kami, Safiya Salwa Syahidah, yang saat ini menginjak usia 10 bulan. Namun, atas dasar cinta dan empati kepada saudara seiman di Ghaza, kami sekeluarga berangkat ke Monas dengan semua bekal maal yang masih tersisa. Ada beberapa lembar uang kertas yang tersumpal dikantong celana. Sayangnya hanya 2 lembar yang signifikan nilainya. Beberapa yang lain hanya cukup untuk membeli makanan sederhana dan air minum untuk kami saat aksi siang harinya, termasuk buat Salwa. Itu pun mungkin tidak cukup.

Namun, saya sudah meniatkan untuk menginfaqkan 1 lembar dari 2 lembar yang cukup berharga itu, (jika tak layak disebut SANGAT berharga). Istri awalnya sedikit agak ragu, mengingat penghasilannya yang beberapa hari lagi keluar sudah ter-pos-pos sedemikian rupa. Sementara untuk melewati satu bulan kedepan masih sangat panjang. Sehingga sepeser dari uang yang tersisa menjadi sangat berarti. Sampai saat aksi solidaritas untuk Palestina itu lewat separuh jalan, istri masih berat hati. Namun bayang wajah duka lara saudara-saudara di Ghaza membuat menitik air mata ini. Saya coba terus meyakinkan istri, bahwa Allah pasti akan mengganti dengan yang jauh lebih banyak. Apalagi mengeluarkan sedekah karena Allah di kala sempit. Allah pasti tak akan membiarkan begitu saja hamba-Nya yang punya ar-rajaa’ dan al-hub kepada saudaranya seiman.

Aksi itu sudah sampai dipenghujungnya, kami pun bersiap melangkah pulang seraya menunggu bus umum yang menuju ke Kota Tangerang. Saya merogoh saku celana dan seketika terhenyak, ternyata kami belum berinfak. Saya genggam beberapa lembar uang kertas di tangan. Dan kutatap wajah istri untuk meminta persetujuannya mengambil satu diantara 2 lembar uang yang sangat berharga itu, sebagaimana yang dari awal sudah diniatkan. Sementara 1 lembar lagi kami pakai untuk ongkos naik bus. Akhirnya, istripun mengangguk tanda setuju.

Saya pun bersyukur. Karena ‘pasukan pengumpul’ infaq dari panitia aksi sudah sangat jauh dari posisi kami, maka sembari meraih Salwa saya mendekati beberapa panitia petugas medis Aksi yang kebetulan sedang berhenti beberapa puluh meter di dekat kami. Setelah sejenak kami beri penjelasan bahwa kami terlupa belum infaq, maka petugas medis bersedia menerima titipan tersebut dari kami. Salwa yang menggenggam uang itu, dan itu pertama kali baginya berlatih untuk berinfaq. Dalam hati, ucapan ‘bismillah’ saya kuatkan saat jemari mungil Salwa melepaskan satu lembar uang berharga itu. Dan akhirnya kami pulang dengan hati yang tentram, penuh syukur, dan berserah diri kepada Allah. Semoga sedikit dari rizki yang kami infaqkan bisa memberi manfaat untuk anak-anak Ghaza yang teraniaya dan tak mampu membeli susu.

Janji Allah itu tak pernah meleset dan ingkar. Allah memenuhi janji-Nya dengan cara-caranya sendiri. Belum genap 24 jam semenjak aksi itu, dari arah yang tak disangka-sangka, lewat tangan istri, Allah SWT memberikan ganti sejumlah uang sama persis dengan nilai uang yang kami infaqkan sehari sebelumnya. Saat istri menyampaikan kabar itu, mata saya berkaca-kaca. “Subhanallah, Engkau Maha menepati janji ya Allah”. Hati saya bergemuruh, bukan karena uang yang kami terima itu. Namun karena untuk yang kesekian kalinya bagi kami, Allah memenuhi janji-Nya secepat kilat.

Tidak sampai disitu, dari uang itu kami pun sepakat untuk menyedekahkan sebagiannya. Subhanallah, 10 hari kemudian lewat tangan istri kembali, lewat jalan yang tak disangka-sangka Allah menggantinya 7 kali lipat dari sebagian yang kami infaqkan. Dengannya kami pun menyedekahkan sebagian lagi dari yang 7 kali lipat itu, dan 2 hari berikutnya Allah yang Maha Kaya menggantinya 10 kali lipat dari yang kami sedekahkan. Padahal biasanya kami hanya menerima penghasilan dari gaji tetap bulanan saja yang tak ‘mungkin’ bertambah di tengah jalan.

Memang Allah benar-benar mengganti sedekah hamba-Nya dengan berlipat-lipat keberkahan. Bahkan di pagi ini, saya mendapatkan kabar gembira lewat telepon dari seorang ikhwah yang bekerjasama mengelola sebuah usaha baru yang saya jalankan. Bahwa usaha yang dibuka hari pertama dihari kemarin menunjukkan optimisme keuntungan yang sangat menjanjikan. Alhamdulillah.

Terima kasih yaa Rabbana, mudah-mudahan Engkau anugerahkan kepada kami dan saudara-saudara kami rezeki yang melimpah lagi berkah. Agar kami bisa kembali bersedekah (dengan lebih banyak) untuk saudara-saudara kami lainnya yang Engkau uji dengan kekurangan harta dan ketakutan. Ya Allah, sayangi dan kasihilah saudara-saudara kami di Ghaza dengan kuasa-Mu. Lindungi dan selamatkan mereka dari orang-orang yang dzalim lagi aniaya.

Ya Allah Dzat yang Maha Perkasa, kami beriman atas janji-janji-Mu. Dan semakin kuat atas keyakinan kami, bahwa iman, ukhuwah, dan rezeki di tangan hamba-Mu tak pernah Engkau sia-siakan. Engkau pasti bersama kami dengan keimanan kami, dan Engkau pasti menjadi Penolong kami dengan persaudaraan kami. Tak ada nilai yang kecil di sisi Engkau, ketika sedekah ini dibalut dengan keikhlasan dan cinta atas nama-Mu.

puteriku yang lekas sembuh

Sudah 2 hari ini badan Salwa hangat. Parasnya yang lucu dan nggemesin tampak lesu dan kurang ceria. Pipinya yang biasanya mudah merekah karena senyumnya, sudah dua hari ini terasa sangat ‘mahal’. Dia sedang pelit senyum. Bahkan Ahad pagi kemarin, saat bersamaku jalan2 disekitar perumahan, reaksinya ‘very very cool’ meski salah seorang tantenya (tetangga rumah) mencoba menggodanya dengan berbagai gaya.

Perasaannya pun sangat sensitif, sedikit-sedikit nangis, bahkan tak jarang tangisnya melengking. Acara makan2 di Gokana Terriyaki yang sudah ayah-bundanya rencanakan jauh2 hari urung dilakukan. Soalnya Salwa ngga mungkin kena angin sementara kesehatannya lagi kurang bagus. Jadilah siang itu aku belanja bahan mentah di Mall Plaza Shinta yang letaknya kebetulan hanya beberapa meter dari pintu rumah.

Siang ini ayah Salwa masak spesial, mie goreng sozziz sapi dan nugget goreng sambal cocol, sedikit mirip menu di Gokkana. Cuma kurang steak daging sapi dan capcay (maklum bundanya ngga bisa ninggalin Salwa). Biar amatir, rasanya juga ngga kalah ko’, apalagi perut lagi kelaparan, hehehe.

Salwa masih makan bubur seduh Promina, belom bisa makan nuget apalagi tongseng. Ya sudahlah dia bareng makan dengan menu yang berbeda. Wajahnya sedikit berbinar dan ceria. Usai makan Salwa minum obat penurun panas, sayang dikeluarkannya kembali. Dia ngga suka minum obat, biar dicampur susu botol juga, tetep nggak mau. Itu susu yang tercampur obat dijamin bakal nggak akan diminum.

Sebenernya suhu tubuhnya belum begitu panas, baru kerasa hangat. So, baru ku kompres saja sesering mungkin. Menurutku belum mendesak dibawa ke dokter. Ku kompres pake tissue yang kubasahi air minum dari kulkas. Dia suka, soalnya dingin. Salwa sudah terbiasa pegang buah dingin yang baru keluar dari kulkas. Jemarinya yang mungil dan lentik biasanya pelan dan malu-malu menyentuhnya. Lama-lama dia suka dan tak takut lagi memainkan buah apel yang dingin itu.

Malam senin lalu bobo’nya juga sebentar-sebentar bangun. Jelas terlihat tidak nyenyak. Matanya lelah dan sembab. Panas badannya sedikit bertambah, mungkin karena tak nyenyak tidur. Pagi harinya, Salwa bangun dengan suasana sedikit berbeda. Matanya jeli melihat sekeliling. Sesekali ia menggeliat, dan kemudian tangisnya melengking. "aem..aem..aemm" begitu ucapnya disela-sela tangis yang melengking dipagi hari. Rupanya dia lapar dan haus. Padahal kalo lagi sehat, Salwa bangun dengan senyum, menggeliat kesana-kemari, dan tangan mungilnya meraba wajahku yang mendekatinya dan mengajaknya berdoa. "Alhamdulillah..". Sambil menunggu Bundanya menyiapkan susu formula, kusetel VCD kesukaan Salwa untuk meredakan rengekannya, "bismillah.. bismillah, dengan nama Allah, bismillah." demikian lirik lagunya. Wajah Salwa menyemburat senang.

Senin pagi Salwa di bawa ke dokter sama neneknya. Dan Alhamdulillah panasnya perlahan menurun sejak sore hari. Meski rewelnya belum ikut ilang. Semalam Tangerang diguyur hujan deras, sehingga Salwa terpaksa menginap di rumah nenek bersama bundanya. Sementara aku harus balik ke rumah untuk mencuci baju-baju Salwa yang sudah mulai menumpuk di keranjang baju. Pagi ini, aku menengoknya dan dia sudah bisa tertawa-tawa menyambutku.

………..

Nanda sayang, kita harus percaya dan yakin. Bahwa semua yang menimpa kita adalah yang terbaik buat kita. Ayah yakin, kamu paham (karena kamu pintar dan sholihah), bahwa sakit yang kita alami adalah sarana agar kelak kamu dan kita pandai bersyukur dengan nikmat sehat. Dan agar kelak kamu menjadi muslimah yang kuat, dan tak mudah menyerah dengan cobaan-cobaan dan kesulitan hidup. Aamiiin.

SELAMAT JALAN WAHAI ORANG YANG MUSLIKH
Saya masing ingat dengan jelas dan tak pernah akan terlupakan. Waktu itu, beberapa hari menjelang masa orientasi mahasiswa baru, saya datang dari kampung sebagai orang baru di Tangerang. Dengan membawa tas carrier tinggi saya berjalan cukup jauh. Saya nekat jalan dari terminal Cimone ke Asrama. Bukan karena dompetnya kecopetan, namun darah petualang sebagai seorang anak pecinta alam SMU yang suka naik gunung dan jalan jauh mendorong saya melakukan ‘long march‘ itu. Sekalian ingin tahu suasana kanan kiri ‘jalan setapak’ menuju asrama secara lebih detil. Maklum pendatang baru.

Hari itu cukup terik, tak heran peluh keringat saya bercucuran, mungkin bisa dikatakan sebesar ‘jagung’. Lumayan juga jalan sejauh 7 km di siang hari dengan tas carrier yang tinggi dan berat. Sampai mendekati ‘warteg’ dan ‘warsun’ dekat asrama kampus suasana memang sudah seperti mau perang. Senior-senior pada nongkrong di tempat-tempat strategis. Tampang senior banyak yang ditekuk dan cuek (maaf, ini sekedar cerita kenangan yang sangat indah), bahkan tidak sedikit yang sudah pada mulai rajin nyuruh push-up para calon mahasiswa baru.

Terus terang punggung saya sudah pegal-pegal dan kaki sudah terasa mau ‘copot’. Ternyata Cimone-asrama bukan jarak yang bersahabat buat jalan kaki di siang hari. Setelah melewati dengan aman para senior yang bikin jantung deg-deg-an, saya mendekati gerbang asrama. Sedikit berbeda dengan kondisi di jalan tadi, di asrama tampak lebih sunyi. Mungkin karena di luar masih lumayan panas, jadi banyak penghuni asrama yang lebih memilih beraktivitas didalam asrama.

Langkah saya sudah gontai. Saya sangat lelah dan kaos yang saya kenakan juga sudah basah kuyup dengan keringat yang terus mengucur. Saca baca bismillah ketika satu kaki mulai menginjak halaman asrama yang memang masih asing. Tiba-tiba, dari sebelah kanan melintas seorang laki-laki menyapaku. Saya tahu dia pasti salah seorang senior.

Wajahnya teduh, dan menyunggingkan senyum yang terasa oleh saya sangat tulus dan dalam. Jelas sangat berbeda dengan wajah para senior yang saya telah berpapasan sebelumnya. Kalau senior yang di luar asrama, saya yang harus berusaha menyunggingkan senyum dan menyapa (itupun belum tentu di balas), tapi senior yang satu ini justru sebaliknya. Ia yang terlebih dahulu tersenyum padaku dan menyapaku "baru datang ya, Dik?", demikian ucapnya. Saya pun menjawab singkat dengan perasaan lega dan ‘aman’.

Setelah semakin dekat, tiba-tiba ia menyodorkan tangannya menjabat tangan saya, "Muslikhin’, katanya menyebut namanya. saya pun menjawab singkat dengan menyebut namaku. Tak sampai di situ, setelah sedikit bercengkerama ia pun kemudian membantu dan mengantar saya melakukan registrasi untuk mendapatkan jatah kamar di asrama itu.

* * *

Iya, itu sepenggal kisah yang sangat berkesan di dalam hati. Sebuah kisah yang terjadi hampir 9 tahun yang lalu. Namun, sungguh saya masih ingat setiap terlintas segala sesuatu yang ber’bau’ kampus dulu. Dan kisah ini pun yang saya ceritakan kepada mas Muslikhin ketika bersama istri saya menjenguknya di RS Al-Qadr 24 Maret 2008 yang lalu.

Sore itu Istrinya menyambut saya dan istri saya dengan tatapan mata yang tegar namun berat. Saya cukup terperanjat melihat kondisi fisiknya yang sangat kurus. Bahkan saya hampir tak mengenalinya. Mata ini berkaca-kaca namun saya menahannya. Wajah yang dulu teduh menyapa dengan senyum yang kuat nuansa keikhlasannya, kini tak mampu mengenali saya. Kangker hati yang menyerangnya sejak beberapa bulan lalu sungguh-sungguh merubahnya dari sosok yang gesit dalam kebaikan menjadi sosok yang lemah tak berdaya. Allah SWT pasti telah menggariskan takdirnya dengan jalan yang paling sempurna.

Usai sholat maghrib, istrinya yang begitu tabah meminta saya menuntun sosok yang terbaring itu untuk menunaikan sholat maghrib. Saya pun duduk disamping pembaringan setelah ia ditayamumkan istrinya. Perlahan saya memulai membacakan bacaan-bacaan sholat dengan memegang punggung tangannya yang tinggal tulang berbalut kulit. Bibir saya bergetar membaca setiap ayat-ayat Al-Qur’an dan bacaan sholat. Mata ini tak kuasa menahan lelehan air mata dengan iringan hati yang bergemuruh memohon mukjizat dari sang Penggengam Jiwa. Allahumma, rabbigh firli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu’anni.

Ia tampak tak bergeming dari posisinya. Setelah sholat dan saya tuntun berdoa, saya sejenak mengajaknya berbincang untuk menghiburnya. Entah ia mendengar atau tidak, tetapi mulut saya terus berbicara. Sambil mengusap keningnya dan mengipasinya, saya pun bercerita padanya tentang kisah sebagaimana yang telah saya ceritakan diatas. Dalam suasana yang tenang itu saya menutup cerita dengan sebuah doa dan harapan, "Mas Muslikhin, insyaAllah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kita. Adalah mudah bagi Allah untuk menurunkan mukjizatnya. Dan Allah lah yang paling mengetahui apa yang terbaik buat kita."

* * *

Jum’at, 29 Februari 2008, HP saya berdering tanda SMS masuk, "innalillahi wainnailahi raaji’un, telah wafat akh Muslikhin, 29 th, hari ini jam 17.15 WIB. Mohon doa dan maafnya". Ternyata Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang lebih menyayanginya dengan jalan mengambil dirinya kembali dalam rengkuhan-Nya. Mengistirahatkan dirinya dari penat kehidupan yang fana ini.

Selamat jalan wahai seorang yang muslikh, kami menjadi bukti atas ketulusanmu, keikhlasanmu, kebaikanmu, dan perjuanganmu dalam membela dakwah Islam yang mulia ini. Dan Allah yang Maha Perkasa yang paling mengetahui kebajikanmu. Selamat jalan saudaraku. Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan dikembalikan. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.

BAIT CINTA UNTUK IBU


Pagi ini, aku bahagia mendengar suaramu meski hanya di ujung telepon. Dari getar-getar suaramu, dapat kurasakan betapa besarnya kasihmu padaku. Tak pernah luntur. Tak pernah berkurang, meski aku belum mampu memberimu kebahagiaan.

Ibu, di Hari Ibu kemarin, ingin rasanya aku memberikan kado spesial untukmu. Dan aku juga ingin menghubungimu malam itu setelah seharian disibukkan urusan pekerjaan. Meski hanya sekedar untuk mengucapkan ’selamat Hari Ibu’ dan sebait ungkapan terima kasih karena sudah melahirkanku, merawatku, dan membesarkanku dengan kesabaran dan perjuangan yang tidak sedikit.

RAHASIA KEAJAIBAN SEDEKAH


Hari ini saya membuka friendster. Salah seorang sahabat mengirimkan sebuah nasehat yang membuat hati tertegun dan mata ini berkaca-kaca. Ia mengirimkan sebuah ’surat cinta’ dari Rasulullah saw. Isi suratnya sebagai berikut;

Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa:”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa:” Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”

Berbicara mengenai balasan dari Allah atas sedekah ataupun infaq yang telah kita keluarkan, sungguh kita butuh keyakinan yang sempurna, bahwa Allah akan mengganti dengan berlipat-lipat dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Berikut ini adalah sekelumit pengalaman yang mudah-mudahan bermanfaat buat ikhwah sekalian.

Alhamdulillah, saya sekeluarga sejak beberapa bulan lalu belajar menguatkan keyakinan itu, bahwa Allah akan memberikan ganti yang lebih baik bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya. Dan dengan pengharapan yang besar kepada Allah bahwa Dia pasti akan memenuhi janjinya tanpa menunggu waktu yang lama. Saya dan istri juga mulai belajar merutinkan sedekah baik dikala lapang dan sempit. Dengan nilai besar ataupun kecil, dengan jalan menghadiahi orang tua atau saudara. Meski tidak seberapa namun kami belajar untuk mengasah keikhlasan semata karena Allah. Dan dengan jalan menyisihkan infaq untuk fii sabilillah. SubhanAllah, keyakinan itu semakin kuat. Dan janji Allah demikian nampak jelas. Salah satunya adalah pada aksi solidaritas Palestina untuk warga Ghaza yang lalu.

Saya dan istri memang orang yang berpenghasilan utama dari gaji yang kami terima setiap akhir bulan. Beberapa penghasilan dari usaha lain (memang sudah menjadi komitmen) sementara tidak kami masukkan dalam penghasilan keluarga. Praktis kami menghidupi diri dengan gaji bulanan tersebut. Maka, kejadian uang habis sebelum jatuh tanggal menjadi hal yang lumrah dan biasa. Tapi kami tak berputus asa, bahkan kami makin semangat untuk berinfaq sekaligus menguatkan keyakinan terhadap janji-janji Allah.

Saat aksi Palestina 27 Januari lalu, kondisi kantong keluarga memang sedang kurang bersahabat. Baru 3 hari terima gaji, cuma tersisa beberapa rupiah saja. Bukan karena dibelanjakan konsumtif, karena kebetulan bulan Januari itu saya mengembangkan usaha yang terpaksa harus mengambil sebagian besar penghasilan bulanan yang biasanya saya terima. Sebagian sisanya sudah pasti dibelanjakan untuk mujahidah kecil kami, Safiya Salwa Syahidah, yang saat ini menginjak usia 10 bulan. Namun, atas dasar cinta dan empati kepada saudara seiman di Ghaza, kami sekeluarga berangkat ke Monas dengan semua bekal maal yang masih tersisa. Ada beberapa lembar uang kertas yang tersumpal dikantong celana. Sayangnya hanya 2 lembar yang signifikan nilainya. Beberapa yang lain hanya cukup untuk membeli makanan sederhana dan air minum untuk kami saat aksi siang harinya, termasuk buat Salwa. Itu pun mungkin tidak cukup.

Namun, saya sudah meniatkan untuk menginfaqkan 1 lembar dari 2 lembar yang cukup berharga itu, (jika tak layak disebut SANGAT berharga). Istri awalnya sedikit agak ragu, mengingat penghasilannya yang beberapa hari lagi keluar sudah ter-pos-pos sedemikian rupa. Sementara untuk melewati satu bulan kedepan masih sangat panjang. Sehingga sepeser dari uang yang tersisa menjadi sangat berarti. Sampai saat aksi solidaritas untuk Palestina itu lewat separuh jalan, istri masih berat hati. Namun bayang wajah duka lara saudara-saudara di Ghaza membuat menitik air mata ini. Saya coba terus meyakinkan istri, bahwa Allah pasti akan mengganti dengan yang jauh lebih banyak. Apalagi mengeluarkan sedekah karena Allah di kala sempit. Allah pasti tak akan membiarkan begitu saja hamba-Nya yang punya ar-rajaa’ dan al-hub kepada saudaranya seiman.

Aksi itu sudah sampai dipenghujungnya, kami pun bersiap melangkah pulang seraya menunggu bus umum yang menuju ke Kota Tangerang. Saya merogoh saku celana dan seketika terhenyak, ternyata kami belum berinfak. Saya genggam beberapa lembar uang kertas di tangan. Dan kutatap wajah istri untuk meminta persetujuannya mengambil satu diantara 2 lembar uang yang sangat berharga itu, sebagaimana yang dari awal sudah diniatkan. Sementara 1 lembar lagi kami pakai untuk ongkos naik bus. Akhirnya, istripun mengangguk tanda setuju.

Saya pun bersyukur. Karena ‘pasukan pengumpul’ infaq dari panitia aksi sudah sangat jauh dari posisi kami, maka sembari meraih Salwa saya mendekati beberapa panitia petugas medis Aksi yang kebetulan sedang berhenti beberapa puluh meter di dekat kami. Setelah sejenak kami beri penjelasan bahwa kami terlupa belum infaq, maka petugas medis bersedia menerima titipan tersebut dari kami. Salwa yang menggenggam uang itu, dan itu pertama kali baginya berlatih untuk berinfaq. Dalam hati, ucapan ‘bismillah’ saya kuatkan saat jemari mungil Salwa melepaskan satu lembar uang berharga itu. Dan akhirnya kami pulang dengan hati yang tentram, penuh syukur, dan berserah diri kepada Allah. Semoga sedikit dari rizki yang kami infaqkan bisa memberi manfaat untuk anak-anak Ghaza yang teraniaya dan tak mampu membeli susu.

Janji Allah itu tak pernah meleset dan ingkar. Allah memenuhi janji-Nya dengan cara-caranya sendiri. Belum genap 24 jam semenjak aksi itu, dari arah yang tak disangka-sangka, lewat tangan istri, Allah SWT memberikan ganti sejumlah uang sama persis dengan nilai uang yang kami infaqkan sehari sebelumnya. Saat istri menyampaikan kabar itu, mata saya berkaca-kaca. “Subhanallah, Engkau Maha menepati janji ya Allah”. Hati saya bergemuruh, bukan karena uang yang kami terima itu. Namun karena untuk yang kesekian kalinya bagi kami, Allah memenuhi janji-Nya secepat kilat.

Tidak sampai disitu, dari uang itu kami pun sepakat untuk menyedekahkan sebagiannya. Subhanallah, 10 hari kemudian lewat tangan istri kembali, lewat jalan yang tak disangka-sangka Allah menggantinya 7 kali lipat dari sebagian yang kami infaqkan. Dengannya kami pun menyedekahkan sebagian lagi dari yang 7 kali lipat itu, dan 2 hari berikutnya Allah yang Maha Kaya menggantinya 10 kali lipat dari yang kami sedekahkan. Padahal biasanya kami hanya menerima penghasilan dari gaji tetap bulanan saja yang tak ‘mungkin’ bertambah di tengah jalan.

Memang Allah benar-benar mengganti sedekah hamba-Nya dengan berlipat-lipat keberkahan. Bahkan di pagi ini, saya mendapatkan kabar gembira lewat telepon dari seorang ikhwah yang bekerjasama mengelola sebuah usaha baru yang saya jalankan. Bahwa usaha yang dibuka hari pertama dihari kemarin menunjukkan optimisme keuntungan yang sangat menjanjikan. Alhamdulillah.

Terima kasih yaa Rabbana, mudah-mudahan Engkau anugerahkan kepada kami dan saudara-saudara kami rezeki yang melimpah lagi berkah. Agar kami bisa kembali bersedekah (dengan lebih banyak) untuk saudara-saudara kami lainnya yang Engkau uji dengan kekurangan harta dan ketakutan. Ya Allah, sayangi dan kasihilah saudara-saudara kami di Ghaza dengan kuasa-Mu. Lindungi dan selamatkan mereka dari orang-orang yang dzalim lagi aniaya.

Ya Allah Dzat yang Maha Perkasa, kami beriman atas janji-janji-Mu. Dan semakin kuat atas keyakinan kami, bahwa iman, ukhuwah, dan rezeki di tangan hamba-Mu tak pernah Engkau sia-siakan. Engkau pasti bersama kami dengan keimanan kami, dan Engkau pasti menjadi Penolong kami dengan persaudaraan kami. Tak ada nilai yang kecil di sisi Engkau, ketika sedekah ini dibalut dengan keikhlasan dan cinta atas nama-Mu.